Rabu, 29 Mei 2013

PENGARUH PEMBERIAN AIR KELAPA TERHADAP MEDIA HIDROPONIK PADA TANAMAN TOMAT

PENGARUH PEMBERIAN AIR KELAPA TERHADAP MEDIA HIDROPONIK PADA TANAMAN TOMAT BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini lahan-lahan untuk bercocok tanam di Indonesia semakin berkurang dan semakin sempit. Sebagian besar orang berlomba-lomba untuk menjadikan lahan yang asalnya sawah-sawah atau kebun-kebun menjadi beberapa bangunan-bangunan. Ini mengakibatkan semakin sulit untuk mencari lahan sebagai tempat menanam tanaman. Oleh karena itu, Hidroponik adalah media yang tepat untuk menjadi salah satu solusi sebagai tempat penanaman, karena dengan media ini tidak memerlukan tanah lagi sebagai media tanamnya. Hanya saja dibutuhkan bahan dasar air dengan ditambah berbagai nutrisi yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan. Tanaman yang digunakan sebagai bahan uji coba dalam penelitian ini adalah tanaman tomat, karena tanaman ini selain memiliki bagian bagian yang lengkap seperti batang, daun, bunga, dan buah, juga umurnya relatif tidak lama, sehingga penelitian berlangsung tidak terlalu lama. Selain itu buah tomat memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan masih memerlukan penanganan serius, terutama dalam hal peningkatan hasilnya dan kualitas buahnya. Dengan demikian, dengan menggunakan media hidroponik ini maka peluang untuk meningkatkan produksi buah tomat yang berkualitas baik semakin terbuka, tanpa khawatir akan sempitnya lahan untuk menanam. Teknik hidroponik ini mulai dikenal sejak abad ke 19, dan hingga kini makin diminati oleh masyarakat-masyarakat tertentu. Kebanyakan para peminat media hidroponik ini adalah dari kalangan masyarakat menengah ke atas, ini dikarenakan bahwa media hidroponik memerlukan biaya yang relatif mahal untuk mengaplikasikanya, misal dalam kebutuhan nutrisinya harus memerlukan biaya mahal, selain itu juga membutuhkan keahlian tertentu (surachman & suyitno. 1996). Kebutuhan akan nutrisi atau unsur hara murni yang tinggi sebagai media hidroponik, maka memerlukan biaya yang tinggi pula. Untuk menangani hal tersebut dapat diatasi dengan mengganti unsur hara murni dengan suatu bahan organik tertentu yang harganya relatif murah. Seperti penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti, diantaranya adalah Monique, Y. V (2007) dan Sari, P.Y, dkk (2011) mereka menggunakan air kelapa sebagai bahan untuk nutrisi pertumbuhan akar pada tanaman, dan hasilnya adalah positif, bahwa air kelapa berpengaruh terhadap pertumbuhan akar. Bahan organik yang digunakan dalam penelitian ini adalah air kelapa, dari berbagai literatur mengatakan bahwa air kelapa ini banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan. Air kelapa yang dalam kehidupan sehari-hari air kelapa ini jarang untuk dimanfaatkan, terutama pada buah kelapa yang sudah tua, biasanya di pasar-pasar setelah daging buahnya diambil untuk kepentingan memasak, air kelapanya dibuang begitu saja. Dari sinilah penelitian ini dilaksanakan, untuk memanfaatkan air kelapa yang kurang dimanfaatkan tersebut menjadi sumber nutrisi bagi tanaman tomat. 1.2.Rumusan Masalah a. Bagaimanakah pengaruh penambahan variasi air kelapa pada media hidroponik terhadap pertumbuhan tanaman tomat? b. Pada variasi konsentrasi air kelapa berapakah tanaman tomat dapat tumbuh secara optimal? 1.3. Tujuan a. Untuk mengetahui pengaruh penambahan variasi konsentrasi air kelapa terhadap pertumbuhan tanaman tomat. b. Untuk mengetahui pada variasi konsentrasi air kelapa berapa tanaman bisa tumbuh dengan optimal. 1.4. Manfaat Manfaat dari penelitian ini yang ingin di capai adalah untuk memberikan informasi ilmiah tentang pemanfaatkan air kelapa sebagai penyedia unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman pada media hidroponik yang tidak kalah saingnya dengan pupuk dari bahan-bahan kimia. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hidroponik Hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Dalam bahasa yang lebih populer, Hidroponik berarti melakukan budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah. Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang mamanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam (Subiyanto. 2008). Pada dasarnya yang dibutuhkan tanaman untuk hidup dan melakukan berbagai proses metabolisme adalah bukan tanah semata, melainkan yang dibutuhkan adalah unsur-unsur hara, sehingga tanaman bisa berkembang dan tumbuh dengan baik. Unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman yang esensial (yang harus dibutuhkan tumbuhan) antara lain dapat dibagi menjadi dua, yaitu unsur makro dan unsur mikro. Yang termasuk dalam unsur makro adalah unsur C, H, N, O, P, K, Ca, Mg, S, sedang yang termasuk unsur mikro antara lain Cl, B, Fe, Mn, Zn, Mo, dan Cu (Gardner, F. P. et al. 2008). Dari hal tersebut maka tidak perlu media tanah sebagai penyedia unsur hara pada tanaman, melainkan dengan media hidroponiklah yang akan bisa lebih efisien untuk menyediakan berbagai unsur-unsur esensial bagi tanaman, dengan cara memberikan nutrisi atau unsur-unsur hara dalam bentuk cair yang dilarutkan dalam air. Dengan demikian media hidoponik lebih baik bagi tanaman dalam hal penyerapan nutrisi, karena tanaman tidak perlu kesulitan lagi dalam memperpanjang akarnya menembus tanah-tanah untuk mencari nutrisi sebagai keperluan pertumbuhanya. Dari hasil penelitian-penelitian yang pernah dilakukan juga menunjukkan bahwa kualitas tanaman dari media hidroponik lebih baik dibandingkan dari tanaman dengan media tanah. Ada berbagai macam bentuk media yang bisa digunakan untuk keperluan hidroponik, diantaranya adalah batu krikil, zeolit, pecahan genting, pasir, spons, batu bata, dan sebagainya. Selain media tersebut juga banyak lagi media dari bahan organik yang dapat digunakan, misalnya sabut kelapa, potongan kayu, arang, sekam padi, remukan batang pakis, dan moss. Dalam hidroponik media yang digunakan dapat berupa satu jenis media dan bisa juga lebih dari satu media, misalkan campuran antara sekam padi dengan batang pakis atau yang lainya. Media yang digunakan juga mempengaruhi hasil dari pertumbuhan tanaman yang ditumbuhkan, misalnya menurunkan pH atau bisa juga menaikkan pH di media tanam, karena pada umumnya, tanaman akan bisa tumbuh dengan baik pada pH sekitar 6-6,5 (surachman & suyitno. 1996). Diusahakan jika menggunakan media tanam hidroponik agar memilih atau menggunakan tempat yang terhindar dari curahan air hujan, misalnya dinaungi dengan plastik UV, kaca atau yang lainya seperti rumah kaca atau Green Hous, sebab jika media terkena air hujan media akan rusak komposisi nutrisinya, dan kemungkinan penanaman tidak akan berhasil dengan maksimal. Untuk mengetahui pertumbuhan tanaman dari media hidroponik ini berhasil dengan baik atau tidak, dapat diidentifikasi melalui pertambahan berat, volume atau tinggi tanaman. Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor internal juga eksternal, yang dimaksud faktor internal antara lain sifat genetis, dan status nutrisi. Sedangkan untuk faktor eksternalnya adalah meliputi berbagai kondisi ekologinya seperti pH, intensitas cahaya, kelembaban, dll (surachman & suyitno. 1996). A. Macam Model Hidroponik Hidroponik dapat dilakukan dengan berbagai teknik atau model dalam penerapanya, diantaranya adalah dengan sistem tetes (drips irigation), NFT (Nutrient Film Technique) dan aeropoik, dari ketiga sintem atau model ini mempunyai ciri masing-masing dan rancangan alatnya pun berbeda-beda. 1. Sistem tetes (drips irigation) Model ini dilakukan dengan menggunakan tetesan nutrisi untuk menyalurkan nutrisi pada tanaman, dan pada model ini dibutuhkan media atau substrat untuk media tanamnya, misalnya sekam, arang, atau remukan batang pakis. Dengan demikian model seperti ini cocok untuk tanaman yang bebanya cukup berat, misalnya tomat, semangka, melon, dan sebagainya. Dan dibutuhkan pam juga pipa untuk menyedot dan meneteskan/mendistribusikan air nutrisi ke semua tanaman dalam media drips ini agar merata (Subiyanto.2012). 2. NFT (Nutrient Film Technique) Sistem NFT ini berbeda dengan sistem drips, sistem NFT mendistribusikan nutrisi ke tanaman dengan cara mengaliri bagian akar yang digantung dengan larutan nutrisi, jadi tanaman di gantung di rak bisa terbuat dari pipa besar yang dilubangi untuk tempat tanaman atau dengan alat yang lainya, pemasangan rak diusahakan agak miring agar air bisa mengalir. Kemudian tanaman bisa digantung dengan menggunakan sterofom juga bisa dengan bahan yang lain seperti busa, kapas dll. Dalam model ini juga diperlukan pam untuk mengalirkan larutan nutrisi yang ada ke rak yang sudah ada tersebut. Dengan teknik yang seperti ini, maka tanaman yang mungkin bisa di tanam dalam media ini adala tanaman yang beratnya kecil atau ringan, misalnya tanaman sayur-sayuran daun sawi, sledri dll (Subiyanto.2012). 3. Aeroponik Sistem ini bisa dilakukan dengan menyediakan wadah atau bak kemudian di isi dengan air nutrisi jangan terlalu penuh dan selanjutnya ditutup dengan lempeng sterofom yang dilibangi (untuk tempat tanaman) dan agar bisa kokoh bisa di ganjal busa atau kapas. Kemudian tanaman yang akan di tanam dimasuk kandengan akarnya sebagian ujung tenggelam dalam air dan sebagian atas tidak tenggelam dalam air, ini dilakukan untuk menjaga agar akar tetap mendapatkan oksigen. Dengan komposisi bahan yang seperti ini maka cocok untuk tanaman yang tidak mempunyai berat yang besar. 2.2.Tanaman Tomat Tanaman tomat banyak ditemukan di daerah tropis seperti di Indonesia, tanaman ini memiliki umur yang relatif agak pendek, sehingga cocok untuk dijadikan bahan penelitian. Sealin itu, tanaman tomat juga menjadi bagian dari salah satu tanaman penghasil buah yang dibutuhkan masyarakat untuk kepentingan memasak sebagai penyedap makanan. Menurut (Wijayani, A, & Widodo, W. 2005) varietes buah tomat relatif banyak, diantaranya yaitu Ratna, Berlian, Mutiara, Bonanza, Intan dan Kaliurang 206. Tomat kaya akan Fe, kandungan gula, dan kandungan vitamin A, B dan C tinggi (Suprijadi, dkk. 2009). Kemampuan tomat untuk dapat menghasilkan buah sangat tergantung pada interaksi antara pertumbuhan tanaman dan kondisi lingkungannya. Faktor lain yang menyebabkan produksi tomat rendah adalah penggunaan pupuk (unsur hara) yang belum optimal serta pola tanam yang belum tepat. Upaya untuk menanggulangi kendala tersebut adalah dengan perbaikan teknik budidaya. Salah satu teknik budidaya tanaman yang diharapkan dapat meningkatkan hasil dan kualitas tomat adalah hidroponik, karena dengan media ini pembudidaya bisa mengatur nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut (Wijayani, A, & Widodo, W. 2005). 2.3.Air Kelapa Air kelapa selain sebagai bahan dasar untuk makanan dan minuman juga memungkinkan bisa untuk menjadi nutrisi bagi tanaman, karena dalam air kelapa terdapat beberapa kandungan unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Kandungan unsur hara dalam air kelapa bukan hanya unsur makro akan tetapi juga unsur mikro, misalnya unsur karbon yang terdapat dalam air kelapa berupa senyawa karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, fruktosa. Sedang unsur Nitrogen terdapat pada senyawa asam-asam amino seperti alin, arginin, alanin, sistin, dan serin (Anonim. 2012). Berikut kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat dalam air kelapa Tabel 1. Komposisi Konsentrasi Folate acid 0,003 mg/l Nicotinate acid 0,64 mg/l Panthotenate Acid 0,52 mg/l Biotin 0,02 mg/l Pyridoxine Very little Hyboflavine 0,01 mg/l Tyamin Very little Giberelat Acid Very little Auxins Very little 1.3-difenilurea 5,8000 mg/l M-inositol 0,01 mg/l Silo-inositol 0,05 mg/l Sorbitol 15 mg/l C1 183 mg/100 gram Cu 0,040 mg/100 gram Fe 0,1 mg/100 gram K 312 mg/100 gram Mg 30 mg/100 gram Na 105 mg/100 gram P 37 mg/100 gram S 15 mg/100 gram (Tulecke et al, dalam Anonim. 2012). Di dalam Air kelapa terdapat kandungan vitamin, asam amino, asam nukleat fosfor, zat tumbuh auksin dan asam giberelat. Yang berfungsi sebagai penstimulir proses proliferasi jaringan, memperlancar metabolisme dan proses respirasi, oleh karena itu air kelapa dapat membantu proses pembelahan sel dan deferensiasi sel. Sehingga mengakibatkan tanaman cepat dalam pertumbuhanya (Tulecke et al, dalam Anonim. 2012). Menurut (Puspita, dkk. 2011) dan ( Monique, Y. V. 2007), Air kelapa bisa mempercepat pertambahan tingi pada tanaman, hal ini karena dalam air kelapa terkandung hormon-hormon yang membantu menstimulir pertumbuhan dan perkembangan jaringan, seperti auksin, sitokinin, dan giberelin. Selain untuk mempercepat pertumbuhan tanaman hormon seperti sitokinin dan auksin yang terdapat dalam air kelapa ini juga bisa membantu proses pembentukan serta perkembangan daun dan bunga serta akar, akar bisa cepat perbanyakanya dan cepat panjangnya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Irwanto (2001), bahwa hormon IBA yang termasuk hormon auksin efektif untuk meningkatkan perakaran pada stek batang. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Alat dan Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman tomat sebagai bahan uji coba, dan sebagai media Hidroponik komposisi bahanya antara lain ialah air kelapa, aquades (H2O), sekam arang, dan remukan batu bata atau genting. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain vas bunga, timbangan analitik, pH meter, beaker glass, mata pisau, gelas ukur, ember, selang, botol air mineral, alat pengukur intensitas cahaya. 3.2. Cara Kerja Penelitian dilakukan pada bulan desember 2012 di Laboratorium terpadu UIN sunan kali jaga yogyakarta. Pertama kali yang dilakukan adalah penyemaian bibit tomat terlebih dahulu di tanah biasa kira-kira tumbuh hingga 2-3 minggu. Setelah sampai pada masa pemindahan tanaman hasil semaian ke media baru, maka langkah selanjutnya adalah membuat komposisi media hidroponik, dengan mencampur arang sekam dan pecahan batu bata, dengan perbandingan arang sekam 3 : 1 batu bata. Disediakan pula komposisi campuran air kelapa dengan air biasa sesuai dengan perlakuan yang akan di lakukan, semua pot harus sama komposisinya. Dalam penelitian ini ada 4 perlakuan, dan setiap perlakukan dilakukan pengulangan 4 kali. Setelah media siap, tanaman tomat yang sudah di tanam segera dipindahkan ke media hidroponik, dengan cara setiap pot diisi dengan satu tanaman, kemudian tanaman yang sudah di tanam diberikan campuran air kelapa dengan aquades dengan cara diteteskan dari atas melalui selang yang tersambung di botol air mineral. Kemudian untuk pengamatan dilakukan selama 4 bulan, dan yang diamati antara lain pH, jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah bunga dan nantinya sampai pada jumlah buah. 3.3. Rancangan Percobaan Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan perlakuan konsentrasi air kelapa yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu: T 0 = 0%, T 1 = 20%, T 2 = 30%, T 3 = 40% Dari masing-masing perlakuan dilakukan 4 kali pengulangan. T = perlakuan ( T0, T1,T2, T3) 3.4. Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga dan jumlah buah akan dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANOVA).   DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2012. AIR kelapa, dalam media kultur pembibitan anggrek Http//:www.wordpress.com. diakses tanggal 18/10/2012. Gardner, F. P., Pearce, R. B, & Mitchell, R. L. 2008. Fisiologi Tanaman Budidaya (Suisilo, H, & subiyanto, Terj.). Lowa State University press. (karya asli dipublikasikan 1985) Irwanto. 2001. Pengaruh hormon IBA terhadap persen jadi stek pucuk Meranti Putih (Shorea montigena). Jurnal. 2-26 Monique, V. Y. 2007. Pengaruh berbagai konsentrasi air kelapa terhadap pembentukan bunga dan akar stek batang Mi hong ( Aglaia odorata Lout). Primordia. Vol 3, NO 1. Puspita, Y., Manurung, H., dan Aspiah. 2011. Pengaruh pemberian air kelapa terhadap pertumbuhan Anggrek kantong semar (paphiopedilum supardii braem & loeb) pada Media knudson secara in vitro. Mulawarman Scientifie, Vol 10, No 2, 1412-498. Subiyanto. 2008. Prospek Pengembangan Iptek Hidroponik Dalam Budidaya Tanaman Semusim Tanaman Semusim. BPP Teknologi, 18-23. Suprijadi., Nuraini, N., dan Yusuf, M. 2009. Sistem Kontrol Nutrisi Hidroponik Dengan Menggunakan Logika Fuzzy. J.Oto.Ktrl.Inst (J.Auto.Ctrl.Inst) Vol 1 (1),: 31-35 Surachman dan suyitno. 1996. Menyiasati Hidroponik Dengan Teknologi Sederhana. Cakrawala pendidikan edisi khusus Dies, 99-107. Wijayani, A, & Widodo, W. 2005. Usaha Meningkatkan Kualitas Beberapa Varietas Tomat Dengan Sistem Budidaya Hidroponik. Ilmu Pertanian Vol. 12 (1),: 77 – 83

Khamis, 18 April 2013

pengendalian hama -enyakit terpadu



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Cabai ialah tanaman asli Amerika Tengah, tepatnya di Bolivia. Diperkirakan, cabai di Indonesia pertama kali di bawa oleh seorang portugis bernama Ferdinand  Magelan (1480-1521). Sebelumnya Columbus membawa cabai di amerika ke spanyol (Capsicum annum L.) sebagai ornag yang berjasa menyebarkan cabai ke seluruh dunia (Anonim, 2011).
Cabai (Capsicum Annum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia, Karena buahnya selain dijadikan sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani, sebagai bahan baku industri, memiliki peluang eksport, membuka kesempatan kerja serta sebagai sumber vitamin C. Luas tanaman dan produksi cabe di Irian Jaya pada tahun 1998 adalah 4.104 ha dengan produksi 8.565 ton/ ha.
Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis sayuran penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah tropika seperti di Indonesia. Cabai sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya untuk ekspor dalam bentuk kering, saus, tepung dan lainnya.
Sistem PHT merupakan bagian yang erat kaitannya dengan usaha produksi seperti penentuan varietas, penggunaan benih unggul, penentuan waktu tanam, pemupukan berimbang, pengairan dan teknik budidaya lainnya. Penerapan PHT merupakan metode pemberdayaan SDM petani agar dapat mewujudkan kemandirian dalam pengambilan keputusan dilahan usaha taninya.
Penerapan strategi pengendalian serangan OPT dilapangan masih menemui kendala diantaranya adalah dalam pengorganisasian kelompok tani, koordinasi pengendalian antar instansi terkait dan kemampuan sumberdaya manusia. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan kemampuan sumber daya manusia terutama petani dan petugas ditingkat lapangan dan petani.
Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabe. Menurut beberapa sumber, thrips yang menyerang cabe tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan pada tanaman cabe hanya salah satunya saja. Dengan panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga. Serangan paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau, namun tidak menutup kemungkinan pada saat musim hujan bisa juga terjadi serangan. Gejala yang bisa dikenali dari kehadiran hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Adanya noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan hama thrips. Dalam beberapa waktu kemudian, noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain dia sebagai hama perusak namun juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) yang menyebabkan penyakit pada tanaman cabe.
1.2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengetahui sistem perlakuan PHT Hama Thrips parvispinus Karny pada Tanaman Cabai (Capsicum Annum L).
1.3. Kegunaan Penulisan
- Sebagai salah satu syarat untuk nilai tugas mata kuliah PHPT
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Botani Tanaman
klasifikasikan tanaman Cabai (Capsicum Annum L) sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum
Species : Capsicum Annum L.
Akar cabai merupakan akar tunggang yang kuat dan bercabang – cabang ke samping membentuk akar serabut. Akar serabut cabai bisa menembus tanah sampai kedalaman 50 cm dan menyamping selebar 45 cm. Pada akar, terdapat rambut – rambuta akar yang merupakan perluasan dari sel – sel epidermis akar. Akar sebagai tempat masuknya mineral dari tanah menuju ke seluruh bagian tumbuhan.
Tanaman cabai berbentu semak, batangnya berkayu. Tipe percabanganya tegak dan menyebar dengan tajuk yang berbeda-beda tergantung pada varietasnya. Tinggi tanaman cabai mencapai 100-120 cm dengan lebar tajuk cabangnya bisa 100 cm. Batang tanaman pada saat muda berwarna kehijauan dengan ruas berwarna hijau dan mudah patah.
Daun cabai merupakan daun tunggal dengan helai berbentuk ovote, muncul di tunas-tunas samping yang tumbuh berurutan di batang utama. Daun cabai tersusun spiral umumnya berwarna hijau. Pada tangkai daun terdapat bagian yang menempel pada batang yang disebut tangkai daun. Bentuk daun lonjong sampai bulat dengan ujung meruncing.
Bunga cabai bersifat tunggal dan tumbuh di ujung ruas tunas. Mahkota berwarna putih atau ungu tergantung pada varietasnya. Alat kelamin jantan dan betina terletak di satu bunga, sehingga termasuk bunga sempura atau hermaprodit. Sebagian bunga cabai menyerbuk sendiri, tetapi mudah juga dilakukan persilangan.
Ukuran buah cabai beragam, dari pendek sampai panjang dengan ujung runcing atau tumpul. Bentuk buah umumnya bulat memanjan. Buah cabai memiliki rongga dengan jumlah berbeda-beda sesuai dengan varietasnya. Di dalam buahterdapat plasenta tempat biji melekat. Daging buah cabai umumnya renyah dan kadang-kadang lunak.
Biji cabai terletak di dalam biah, melekat sepanjang plasenta. Warnanya putih atau kuning jerami dan memiliki lapisan kulit keras di bagian luarnya. Bobot biji cabai yang telah kering rata-rata 120 butir/gr. Biji inilah yang digunakan sebagai benih untuk menghasilkan tanaman baru.
2.2. Syarat Tumbuh
Tanah
Pertumbuhan tanaman cabai akan baik pada tanah yang datar atau sedikit miring, solum dalam dan mempunyai draenasi yang baik, tanah gembur, subur, dan permeabilitas sedang. Tanah yang baik bagi pertumbuhan harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alamiah dan hara tambahan.
Tanaman cabai dapat tumbuh optimal pada tanah dengan pH 5,5 - 6,8. Namun, tanaman cabai masih toleran pada derajat keasaman hingga dengan pH 5 – 7. Bila pH lahan pertanaman itu rendah sehingga tidak sesuai dengan syarat tumbuh maka nilai pH-nya dapat ditingkatkan dengan melakukan pengapuran. Sebaliknya, bila pH lahan pertanaman itu tinggi, maka nilai pH-nya dapat diturunkan dengan meambahkan belerang pada tanah.
Cabai tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah hingga dataran tinggi sampai 1400 m dpl. Namun, di dataran tinggi pertumbuhannya lebih lambat dan umur panennya lebih lama dibadingkan dengan yang ditanam di dataran rendah.
Iklim
Suhu udara sangat berpengaruh terhadap kehidupan cabai, dari saat pembibitan sampai saat produktif. Selama periode perkecambahan memerlukan suhu 20 – 24 oC. Di atas nilai itu, proses perkecambahan akan berlangsung lambat. Pada masa pertumbuhan memerlukan suhu 27 – 30 OC pada siang hari dan 18 – 25 oC pada malam hari.
Curah hujan tinggi tidak terlalu baik untuk cabai karena menyebabkan kerontokan bakal bunga serta membuat bunga dan buah tumbuh kecil. Selain itu, kelembaban yang tinggi akan merangsang perkembangan jamur yang berpotensi mengundang penyakit. Curah hujan yang cocok adalah sebesar 600 – 1250 mm dan tersebar merata disepanjang masa pertumbuhannya.
Cabai membutuhkan iklim kering dengan lama penyinaran 12 jam per hari, terutama pada masa pembungaan dan pembuahan. Untuk itu, sebaiknya cabai ditanam pada awal musim kemarau. Namun, untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi, karna harga jualnya melonjak, cabai dapat ditanam pada musim hujan.
2.3. Penyiapan Lahan Persemaian
2. Persemaian
Untuk memperoleh bibit yang baik umumnya dilakukan penyemaian biji/benih di tempat persemaian, kemudian dilakukan penyapihan (pembumbungan) sebelum ditanam di lapangan.
§ Perlakuan benih
Untuk mempercepat perkecambahan dan menghilangkan hama/penyakit yang terbawa benih, sebelum disemai benih direndam dalam air hangat (50oC) atau larutan Previcur N (1 cc) selama 1 jam,
§ Persiapan lahan persemaian
Tempat persemaian berupa bedengan berukuran lebar 1 m, diberi naungan atap plastik transparan, dan atap menghadap ke timur. Media persemaian terdiri dari campuran tanah halus dan pupuk kandang steril (1 : 1)
§ Penyemaian
Benih disebar rata pada bedengan dan ditutupi tipis tanah halus, lalu ditutupi lagi dengan daun pisang atau karung basah. Setelah benih berkecambah (7-8 hari) tutup daun pisang atau karung dibuka.
§ Pemeliharaan bibit
- Inokulasi cendawan mikoriza sebanyak 10 gr/pohon sangat bermanfaat, karena dapat mempercepat laju pertumbuhan dan kesehatan tanaman di persemaian, juga dapat meningkatkan daya hidup dan pertumbuhan tanaman di lapangan.
- Penyiraman dilakukan secukupnya tidak terlalu basah atau kering.
- Persemaian juga disiangi dengan cara mencabut gulma yang tumbuh.
- Bibit yang tampak terserang hama atau penyakit dibuang dan dimusnahkan.
- Sebelum dipindah ke lapangan dilakukan penguatan bibit dengan jalan membuka atap persemaian supaya bibit menerima langsung sinar matahari dan mengurangi penyiraman secara bertahap.
Penguatan bibit dilakukan selama 7 hari.
- Bibit siap ditanam setelah berumur 3-4 minggu dalam bumbungan. Bibit tersebut sudah membentuk 4-6 helai daun, dan tinggi 5-10 cm (Anonim,2012).

3.1. Hama Gurem (Thrips parvispinus Karny)
Hama Gurem atau Thrips dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Thysanoptera
Famili : Thripidae
Genus : Thrips
Spesies : Thrips parvispinus Karny
Thrips mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :
1. Serangga dewasa berukuran kecil, panjang 0,8 mm – 0,9 mm, berwaran kuning cokelat kehitam – hitaman.
2. Hama ini berkembang biak secara tak kawin (partenogenesis)
3. Telur berbentuk oval atau seperti ginjal, diletakkan di dalam jaringan daun.
4. Nimfa beerwarna putih dan sangat aktif, terdiri atas dua instar, yang diikuti dengan periode pre pupa dan kemudian pupa.
5. Pupa dibentuk di dalam tanah, kemudian menjadi serangga dewasa.
6. Daur hidup berkisar antara 7 – 12 hari di dataran rendah, dan berkembang pesat populasinya pada musim kering (kemarau).
Thrips betina meletakkan telurnya secara tunggal di dalam jaringan tanaman inang. Setelah kira-kira tiga hari, telur menetas (sering terjadi pada pagi hari) dan muncul larva instar satu, satu hingga dua hari kemudian menjadi larva instar dua. Stadia ini berakhir antara 2-4 hari dan pada akhirnya larva ini tidak makan sama sekali. Larva yang tidak makan ini akan meninggalkan tanaman dan pergi bersembunyi ke dalam tanah sehingga muncul instar tiga (stadia prepupa), 1-2 hari kemudian menjadi instar keempat. Setelah 2-3 hari, larva tersebut muncul sayap dan kembali makan.
Bila kondisi menguntungkan dan makanan cukup tersedia, maka seekor trips betina mampu meletakkan telur 200–250 butir. Telur berukuran sangat kecil, biasanya diletakkan di jaringan muda daun, tangkai kuncup dan buah. Telur menetas menjadi nimfa 6–8 hari setelah diletakkan.
Nimfa trips instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih dan mempunyai 2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan jaringan tanaman. Sebelum memasuki instar kedua warnanya berubah menjadi kuning kehijauan, berukuran 0,4 mm, kemudian berganti kulit.
Pada instar kedua ini trips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung,
biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Trips
instar ke dua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktifitas makannya
meningkat. Pada akhir instar ini, trips biasanya mencari tempat di tanah atau timbunan jerami di bawah kanopi tanaman.
Pada stadium prapupa maupun pupa, ukuran trips lebih pendek dan muncul 2 pasang sayap dan antena, aktifitas makan berangsur berhenti. Setelah dewasa, sayap bertambah panjang sehingga melebihi panjang perutnya. Ukuran trips betina 0,7–0,9 mm, trips jantan lebih pendek.
Dalam satu tahun terdapat 8–12 generasi. Pada musim kemarau,
perkembangan telur sampai dewasa 13–15 hari dan stadium dewasa berkisar 15–20 hari. bila suhu di sekitar tanaman meningkat, maka trips akan berkembang sangat cepat.
3.2 Gejala
 Serangan  yang ditimbulkan hama thrips adalah sebagai berikut :
1. Mula – mula daun muda yang terserang bernoda keperak – perakan secara tidak beraturan, akibat adanya luka bekas serangan thrips.
2. Selanjutnya, noda – noda keperak – perakan berubah menjadi cokelat tembaga.
3. Serangan berat dapat menyebabkan daun – daun mengeriting ke atas.
pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai yang dianjurkan adalah pengendalian terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati(biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi. Pengendalian hama dan penyakit secara teknik budi daya(agronomik) dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun(sanitasi), penghancuran tanaman inang, pengerjaan tanah yang sempurna, pengelolaan air yang baik, pergiliran tanaman, pemberoan lahan, penanaman serentak, dan penetapan jarak tanam. Adapun hama dan penyakit tanaman cabai sendiri jumplahnya banyak sekali.
BAB III
PENGELOLAAN HAMA TERPADU (PHT)
3.3. SEJARAH Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
Tahun 1939 : DDT (dichloro-Diphenyl-Trichloroethane) adalah salah satu yang di kenal petisida sintetis. Ini merupakan bahan kimia yang panjang, uik, dan sejarah kontroversial diformulasika di swiss sebagai racun perut dan racun kontak .
Tahun 1992 : Rachel carson menerbitka bukan ”silent Spring” (musim semi yang sunyi) tentang bahaya pestisida. DDt dan pestisida dapat menyebabkan kanker dan pertanian jika terus digunakan dapat menjadi ancaman bagi satwa liar, terutama burung, silent spring menyebabkan masyarakat banyak tidak setuju atas DDT yang kemudian di larang di AS (Amerika Serikat) pada 1972.
Tahun 1972 : EPA (Environmental protection authority) melarang menggunakan DDT untuk pertanian seluruh dunia dibawah konvensi stokhulum.
1990 : PHT ( Pengendalian Hama Terpadu ) di perkenalkan sehngga penggunaan pestisida berkurang. Sekarang riset banyak di gunakan terhadap rekayasa genetika agen biokontrol.
Pembuatan tanaman transgenik tahan OPT dan pestisida yang paling banyak di gunakan adalah herbisida, umumnya masyarakat di negara maju memounyai areal yang sangat luas, maka dari itu umtuk mengifisienikan tenaga kerja lebih banyak menggunkan herbisida untuk mengendalikan gulma.
Penggunaan pestisida terlalu banyak akan mengakibatkan resurjensi (Hama Skunder menjadi Hama Penting). Akibat kerugian pestisida :

a)      Berdampak pada kesehatan masyarakat
b)      Resistensi OPT
c)      Kekurangan hasil
d)      Kontaminasi atau pencemaran lingkungan
e)      Terbunuhnya organisme
Mengintegrasikan keseluruh tekhnik dan metode yang konvitabeldengan menerapkan konsep agroekoteknologi
3.1.1. Konsep PHT Lama
            Lebih di tunjukan untuk mengurangi frekuensidan jumlah pemakaian pestisida. Karna pestisoda merupakan pilihan terakhir, maka pengendalian terpadu hanya menerapkan sebagai pilihan terakhir pula, harus menghitung ambang ekonomi OPT dan bukan pencegahan  
3.1.2. Konsep PHT Baru
a)      Bersipat Holistik dengan menerapkan agroekoteknologi
b)      Pestisida telah digunakan diawal kegiatan budidaya
c)      Tidak terlalu tergantung pada batasan ambang ekonomi
d)      Bersipat preventif (pencegahan). Dengan tujuan mengutamakan kesehatan tanaman.
Agroekosistem merupakan tempat hidupnya berbagai jenis serangga, serangga-serangga tersebut dapat merugikan bagi tanaman budidaya dan dapat berguna. Salah satu dari serangga tersebut dapat berperan sebagai hama utama yang merupakan spesies hama pada kurun waktu lama selalu menyerang pada suatu daerah dengan intensitas serangga yang berat sehingga memerlukan usaha pengendalian yang seringkali dalam daerah yang luas. Tanpa usaha pengendalian maka hama ini akan mendatangkan kerugian ekonomik bagi petani. Biasanya pada agroekosistem hanya ada satu atau dua hama utama. Sisanya adalah termasuk kategori hama yang lain.
Salah satu istilah yang digunakan untuk membatasi penggunaan pestisida ada yang dikenal dengan BMR (Batas Maksimum Residu). Batas Maksimum Residu (BMR) merupakan batas dugaan maksimum residu pestisida yang ada dalamberbagai hasil pertanian yang diperoleh (Anonim, 2011).
Sistem PHT merupakan bagian yang erat kaitannya dengan usaha produksi seperti penentuan varietas, penggunaan benih unggul, penentuan waktu tanam, pemupukan berimbang, pengairan dan teknik budidaya lainnya. Penerapan PHT merupakan metode pemberdayaan SDM petani agar dapat mewujudkan kemandirian dalam pengambilan keputusan dilahan usaha taninya.
Penerapan strategi pengendalian serangan OPT dilapangan masih menemui kendala diantaranya adalah dalam pengorganisasian kelompok tani, koordinasi pengendalian antar instansi terkait dan kemampuan sumberdaya manusia. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan kemampuan sumber daya manusia terutama petani dan petugas ditingkat lapangan dan petani.
Memang dalam pengendalian OPT secara konsep PHT tidak langsung menampakkan hasil yang nyata tetapi memerlukan waktu yang relatif lama baru diketahui hasilnya. Tidak seperti halnya pada pengendalian hama secara kimiawi yang langsung dapat terlihat dampaknya terhadap jasad pengganggu.
Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi. Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat.
3.1.3. Pengendalian Hama dan Penyakit Strategi(taktik)
pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai yang dianjurkan adalah pengendalian terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati(biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi. Pengendalian hama dan penyakit secara teknik budi daya(agronomik) dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun(sanitasi), penghancuran tanaman inang, pengerjaan tanah yang sempurna, pengelolaan air yang baik, pergiliran tanaman, pemberoan lahan, penanaman serentak, dan penetapan jarak tanam. Adapun hama dan penyakit tanaman cabai sendiri jumplahnya banyak sekali. Berikut adalah berbagai jenis hama dan penyakit tanaman cabai dan cara pengendaliannya:
A. Hama Cabai Hama-hama penting yang umum menyerang tanaman cabai adalah sebagai berikut:
1. Ulat Grayak(Spodoptera Litura F.)
Ulat yang pada tubuhnya terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris kekuningan pada sisinya ini sering merusak tanaman cabai di musim kemarau dengan cara memakan daun dan buahnya mulai dari bagian tepi hingga menyebar ke bagian atas dan bawah. Serangan ulat grayak ini menyebabkan daun dan buah cabai berlubang secara tidak beraturan sehingga menghambat proses fotosintesis. Akibatnya produksi cabai akan menurun.

 Pengendalian secara kimiawi , yakni sebagai berikut:
 Pemasangan Sex Pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu)
jantan. Sex Pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan oleh serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan seksual(birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan melakukan sehingga membuahkan keturunan. Sex Pheromone ini berasal dari Taiwan yang di Indonesia di beri nama Ugratas (Ulat Grayak Berantas Tuntas) dan berwarna merah. Ugratas ini sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak. Cara pemasangan Ugratas ini adalah dimasukkan ke dalam botol bekas Aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-
kupu jantan. Satu hektar kebun cabai cukup dipasang 5 buah hingga 10
buah Ugratas merah dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas
tanaman cabai. Daya tahan (efektifitas) Ugratas ini kurang lebih tiga
minggu dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan.
Keuntunganpenggunaan Ugratas ini, antara lain, adalah aman bagi
manusia dan ternak, tidak berdampak negative terhadap lingkungan, dapat
menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama,
dan dapat memperlambat perkembangan hama tersebut.
Dalam hal ini pengendalian hama thrips, dapat dilakukan dengan menempuh cara sebagai berikut :
1. Secara kultur teknis, dengan mempraktekkan penyiapan bedengan bermulsa plastik hitam perak, mengatur pergiliran (rotasi) tanaman yang bukan sefamili, dan mengatur waktu tanam yang baik (tepat).
2. Secara biologi (hayati) dengan memanfaatkan musuh – musuh alami hama thrips, yaitu kumbang Coccinellidae, tungau predator, kepik Anthocoridae, dan kumbang Staphulinidae.
3.   Pengendalian memakai perangkap hama, yaitu dengan memasang Insect Adesive Trap Paper( IATP ) berupa lembar kertas berwarna kuning ukuran 21,5 cm x 15 cm asal Taiwan. Cara pemasangannya adalah digulung dan digantung setinggi 15 cm – 30 cm dari pucuk tanaman cabai. Dengan cara demikian, serangga hama Thrips yang berterbangan dan mengenai IATP akan langsung terperangkap.
4. Monitoring hama untuk menentukan Ambang Kendali. Sebagai indikator, pada saat ditemukan 10 nimfa/ daun atau kerusakan tanaman mencapai 15 %, perlu dilakukan penyemprotan insektisida.
5. Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan penyemprotan insektisida Dicarzol 25 SP, Confidor 200 SL, Pegagus 500 SC, Decis 2,5 EC(0,04 %), Hostathion 40 EC(0,2 %), dan Mesurol 50 WP(0,1 % - 0,2 %). Dosis atau konsentrasi penyemprotan disesuaikan dengan label yang terdapat pada label kemasan obat tersebut (Jakapuring,2012).










KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
1. Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis sayuran penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah tropika seperti di Indonesia.
2. Thrips betina meletakkan telurnya secara tunggal di dalam jaringan tanaman inang. Setelah kira-kira tiga hari, telur menetas (sering terjadi pada pagi hari) dan muncul larva instar satu, satu hingga dua hari kemudian menjadi larva instar dua. Stadia ini berakhir antara 2-4 hari dan pada akhirnya larva ini tidak makan sama sekali.
3. Gejala serangan yang ditimbulkan hama thrips adalah sebagai berikut : (a) Mula – mula daun muda yang terserang bernoda keperak – perakan secara tidak beraturan, akibat adanya luka bekas serangan thrips.
4.   Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi.pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat.
5. konsep PHT tidak langsung menampakkan hasil yang nyata tetapi memerlukan waktu yang relatif lama baru diketahui hasilnya. Tidak seperti halnya pada pengendalian hama secara kimiawi yang langsung dapat terlihat dampaknya terhadap jasad pengganggu.
Saran :
Sebaiknya dalam penerapan strategi pengendalian serangan OPT dilapangan perlu dilakukan peningkatan kemampuan sumber daya manusia terutama petani dan petugas ditingkat lapangan dan petani.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. Tanaman Cabai. http://cms. 1 m-bio.com/tanaman-cabai/
______, 2011. Pengendalian Hama Terpadu. http://ulatgatel – sodiest.blogspot.com/2011/09/. html
______, 2012. Penyuluhan persemaian dan persiapan lahan untuk tanaman cabai. http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/persemaian-dan-persiapan-lahan-untuk-tanaman-cabai
Sugianto,Y. 2010. perlakuan pht hama thrips pavispinnus.html. http://yusufsugianto.blogspot.com/2010/11/perlakuan-pht-hama-thrips-pavispinnus.html