BAB I
1.1.
Latar Belakang
Cabai ialah
tanaman asli Amerika Tengah, tepatnya di Bolivia. Diperkirakan, cabai di
Indonesia pertama kali di bawa oleh seorang portugis bernama Ferdinand Magelan (1480-1521). Sebelumnya Columbus
membawa cabai di amerika ke spanyol (Capsicum annum L.) sebagai ornag
yang berjasa menyebarkan cabai ke seluruh dunia (Anonim, 2011).
Cabai (Capsicum
Annum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai
ekonomi penting di Indonesia, Karena buahnya selain dijadikan sayuran atau
bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani, sebagai bahan
baku industri, memiliki peluang eksport, membuka kesempatan kerja serta sebagai
sumber vitamin C. Luas tanaman dan produksi cabe di Irian Jaya pada tahun 1998
adalah 4.104 ha dengan produksi 8.565 ton/ ha.
Cabai merah (Capsicum
annum L.) merupakan salah satu jenis sayuran penting yang bernilai ekonomis
tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah tropika seperti di Indonesia.
Cabai sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya
untuk ekspor dalam bentuk kering, saus, tepung dan lainnya.
Sistem PHT merupakan bagian yang erat kaitannya dengan usaha produksi
seperti penentuan varietas, penggunaan benih unggul, penentuan waktu tanam,
pemupukan berimbang, pengairan dan teknik budidaya lainnya. Penerapan PHT
merupakan metode pemberdayaan SDM petani agar dapat mewujudkan kemandirian
dalam pengambilan keputusan dilahan usaha taninya.
Penerapan
strategi pengendalian serangan OPT dilapangan masih menemui kendala diantaranya
adalah dalam pengorganisasian kelompok tani, koordinasi pengendalian antar
instansi terkait dan kemampuan sumberdaya manusia. Oleh karena itu perlu
dilakukan peningkatan kemampuan sumber daya manusia terutama petani dan petugas
ditingkat lapangan dan petani.
Hama thrips
(Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabe. Menurut beberapa
sumber, thrips yang menyerang cabe tergolong sebagai pemangsa segala jenis
tanaman, jadi serangan pada tanaman cabe hanya salah satunya saja. Dengan
panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih
bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda
dan bunga. Serangan paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau, namun
tidak menutup kemungkinan pada saat musim hujan bisa juga terjadi serangan.
Gejala yang bisa dikenali dari kehadiran hama ini adalah adanya strip-strip
pada daun dan berwarna keperakan. Adanya noda keperakan itu tidak lain akibat
adanya luka dari cara makan hama thrips. Dalam beberapa waktu kemudian, noda
tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari
thrips adalah selain dia sebagai hama perusak namun juga sebagai carrier atau
pembawa bibit penyakit (berupa virus) yang menyebabkan penyakit pada tanaman
cabe.
1.2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan
penulisan paper ini adalah untuk mengetahui sistem
perlakuan PHT Hama Thrips parvispinus Karny pada Tanaman Cabai (Capsicum Annum L).
1.3. Kegunaan Penulisan
- Sebagai
salah satu syarat untuk nilai tugas mata kuliah PHPT
- Sebagai
bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Botani Tanaman
klasifikasikan tanaman Cabai (Capsicum Annum L) sebagai
berikut :
Kingdom :
Plantae
Divisi :
Spermatophyta
Subdivisio :
Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo :
Solanales
Famili :
Solanaceae
Genus :
Capsicum
Species : Capsicum
Annum L.
Akar cabai merupakan
akar tunggang yang kuat dan bercabang – cabang ke samping membentuk akar
serabut. Akar serabut cabai bisa menembus tanah sampai kedalaman 50 cm dan
menyamping selebar 45 cm. Pada akar, terdapat rambut – rambuta akar yang
merupakan perluasan dari sel – sel epidermis akar. Akar sebagai tempat masuknya
mineral dari tanah menuju ke seluruh bagian tumbuhan.
Tanaman cabai
berbentu semak, batangnya berkayu. Tipe percabanganya tegak dan menyebar dengan
tajuk yang berbeda-beda tergantung pada varietasnya. Tinggi tanaman cabai
mencapai 100-120 cm dengan lebar tajuk cabangnya bisa 100 cm. Batang tanaman
pada saat muda berwarna kehijauan dengan ruas berwarna hijau dan mudah patah.
Daun cabai
merupakan daun tunggal dengan helai berbentuk ovote, muncul di tunas-tunas
samping yang tumbuh berurutan di batang utama. Daun cabai tersusun spiral
umumnya berwarna hijau. Pada tangkai daun terdapat bagian yang menempel pada
batang yang disebut tangkai daun. Bentuk daun lonjong sampai bulat dengan ujung
meruncing.
Bunga cabai
bersifat tunggal dan tumbuh di ujung ruas tunas. Mahkota berwarna putih atau
ungu tergantung pada varietasnya. Alat kelamin jantan dan betina terletak di
satu bunga, sehingga termasuk bunga sempura atau hermaprodit. Sebagian bunga
cabai menyerbuk sendiri, tetapi mudah juga dilakukan persilangan.
Ukuran buah
cabai beragam, dari pendek sampai panjang dengan ujung runcing atau tumpul.
Bentuk buah umumnya bulat memanjan. Buah cabai memiliki rongga dengan jumlah
berbeda-beda sesuai dengan varietasnya. Di dalam buahterdapat plasenta tempat
biji melekat. Daging buah cabai umumnya renyah dan kadang-kadang lunak.
Biji cabai
terletak di dalam biah, melekat sepanjang plasenta. Warnanya putih atau kuning
jerami dan memiliki lapisan kulit keras di bagian luarnya. Bobot biji cabai
yang telah kering rata-rata 120 butir/gr. Biji inilah yang digunakan sebagai
benih untuk menghasilkan tanaman baru.
2.2. Syarat Tumbuh
Tanah
Pertumbuhan
tanaman cabai akan baik pada tanah yang datar atau sedikit miring, solum dalam
dan mempunyai draenasi yang baik, tanah gembur, subur, dan permeabilitas
sedang. Tanah yang baik bagi pertumbuhan harus mampu menahan air yang cukup dan
hara yang tinggi secara alamiah dan hara tambahan.
Tanaman cabai
dapat tumbuh optimal pada tanah dengan pH 5,5 - 6,8. Namun, tanaman cabai masih
toleran pada derajat keasaman hingga dengan pH 5 – 7. Bila pH lahan pertanaman
itu rendah sehingga tidak sesuai dengan syarat tumbuh maka nilai pH-nya dapat
ditingkatkan dengan melakukan pengapuran. Sebaliknya, bila pH lahan pertanaman
itu tinggi, maka nilai pH-nya dapat diturunkan dengan meambahkan belerang pada
tanah.
Cabai tumbuh
dan berproduksi dengan baik di dataran rendah hingga dataran tinggi sampai 1400
m dpl. Namun, di dataran tinggi pertumbuhannya lebih lambat dan umur panennya
lebih lama dibadingkan dengan yang ditanam di dataran rendah.
Iklim
Suhu udara
sangat berpengaruh terhadap kehidupan cabai, dari saat pembibitan sampai saat
produktif. Selama periode perkecambahan memerlukan suhu 20 – 24 oC.
Di atas nilai itu, proses perkecambahan akan berlangsung lambat. Pada masa
pertumbuhan memerlukan suhu 27 – 30 OC pada siang hari dan 18 – 25 oC
pada malam hari.
Curah hujan
tinggi tidak terlalu baik untuk cabai karena menyebabkan kerontokan bakal bunga
serta membuat bunga dan buah tumbuh kecil. Selain itu, kelembaban yang tinggi
akan merangsang perkembangan jamur yang berpotensi mengundang penyakit. Curah
hujan yang cocok adalah sebesar 600 – 1250 mm dan tersebar merata disepanjang
masa pertumbuhannya.
Cabai
membutuhkan iklim kering dengan lama penyinaran 12 jam per hari, terutama pada
masa pembungaan dan pembuahan. Untuk itu, sebaiknya cabai ditanam pada awal
musim kemarau. Namun, untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi, karna
harga jualnya melonjak, cabai dapat ditanam pada musim hujan.
2.3. Penyiapan
Lahan Persemaian
2. Persemaian
Untuk memperoleh bibit yang baik umumnya dilakukan
penyemaian biji/benih di tempat persemaian, kemudian dilakukan penyapihan
(pembumbungan) sebelum ditanam di lapangan.
§ Perlakuan benih
Untuk mempercepat perkecambahan dan menghilangkan
hama/penyakit yang terbawa benih, sebelum disemai benih direndam dalam air
hangat (50oC) atau larutan Previcur N (1 cc) selama 1 jam,
§ Persiapan lahan
persemaian
Tempat persemaian berupa bedengan berukuran lebar 1 m,
diberi naungan atap plastik transparan, dan atap menghadap ke timur. Media
persemaian terdiri dari campuran tanah halus dan pupuk kandang steril (1 : 1)
§ Penyemaian
Benih disebar rata pada bedengan dan ditutupi tipis
tanah halus, lalu ditutupi lagi dengan daun pisang atau karung basah. Setelah
benih berkecambah (7-8 hari) tutup daun pisang atau karung dibuka.
§ Pemeliharaan bibit
- Inokulasi cendawan mikoriza sebanyak 10 gr/pohon
sangat bermanfaat, karena dapat mempercepat laju pertumbuhan dan kesehatan
tanaman di persemaian, juga dapat meningkatkan daya hidup dan pertumbuhan
tanaman di lapangan.
- Penyiraman dilakukan secukupnya tidak terlalu basah
atau kering.
- Persemaian juga disiangi dengan cara mencabut gulma
yang tumbuh.
- Bibit yang tampak terserang hama atau penyakit
dibuang dan dimusnahkan.
- Sebelum dipindah ke lapangan dilakukan penguatan
bibit dengan jalan membuka atap persemaian supaya bibit menerima langsung sinar
matahari dan mengurangi penyiraman secara bertahap.
Penguatan bibit dilakukan selama 7 hari.
- Bibit siap ditanam
setelah berumur 3-4 minggu dalam bumbungan. Bibit tersebut sudah membentuk 4-6
helai daun, dan tinggi 5-10 cm (Anonim,2012).
3.1. Hama Gurem (Thrips
parvispinus Karny)
Hama Gurem
atau Thrips dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Arthropoda
Kelas :
Insecta
Ordo :
Thysanoptera
Famili :
Thripidae
Genus :
Thrips
Spesies : Thrips
parvispinus Karny
Thrips
mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :
1. Serangga dewasa berukuran kecil, panjang 0,8 mm – 0,9 mm, berwaran
kuning cokelat kehitam – hitaman.
2. Hama ini berkembang biak secara tak kawin (partenogenesis)
3. Telur berbentuk oval atau seperti ginjal, diletakkan di dalam jaringan
daun.
4. Nimfa beerwarna putih dan sangat aktif, terdiri atas dua instar, yang
diikuti dengan periode pre pupa dan kemudian pupa.
5. Pupa dibentuk di dalam tanah, kemudian menjadi serangga dewasa.
6. Daur hidup berkisar antara 7 – 12 hari di dataran rendah, dan
berkembang pesat populasinya pada musim kering (kemarau).
Thrips betina
meletakkan telurnya secara tunggal di dalam jaringan tanaman inang. Setelah
kira-kira tiga hari, telur menetas (sering terjadi pada pagi hari) dan muncul
larva instar satu, satu hingga dua hari kemudian menjadi larva instar dua.
Stadia ini berakhir antara 2-4 hari dan pada akhirnya larva ini tidak makan
sama sekali. Larva yang tidak makan ini akan meninggalkan tanaman dan pergi
bersembunyi ke dalam tanah sehingga muncul instar tiga (stadia prepupa), 1-2
hari kemudian menjadi instar keempat. Setelah 2-3 hari, larva tersebut muncul
sayap dan kembali makan.
Bila kondisi
menguntungkan dan makanan cukup tersedia, maka seekor trips betina mampu
meletakkan telur 200–250 butir. Telur berukuran sangat kecil, biasanya
diletakkan di jaringan muda daun, tangkai kuncup dan buah. Telur menetas
menjadi nimfa 6–8 hari setelah diletakkan.
Nimfa trips
instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih dan mempunyai
2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan jaringan
tanaman. Sebelum memasuki instar kedua warnanya berubah menjadi kuning
kehijauan, berukuran 0,4 mm, kemudian berganti kulit.
Pada instar
kedua ini trips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung,
biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Trips
instar ke dua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktifitas makannya
meningkat. Pada akhir instar ini, trips biasanya mencari tempat di tanah atau timbunan jerami di bawah kanopi tanaman.
biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Trips
instar ke dua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktifitas makannya
meningkat. Pada akhir instar ini, trips biasanya mencari tempat di tanah atau timbunan jerami di bawah kanopi tanaman.
Pada stadium
prapupa maupun pupa, ukuran trips lebih pendek dan muncul 2 pasang sayap dan
antena, aktifitas makan berangsur berhenti. Setelah dewasa, sayap bertambah
panjang sehingga melebihi panjang perutnya. Ukuran trips betina 0,7–0,9 mm,
trips jantan lebih pendek.
Dalam satu
tahun terdapat 8–12 generasi. Pada musim kemarau,
perkembangan telur sampai dewasa 13–15 hari dan stadium dewasa berkisar 15–20 hari. bila suhu di sekitar tanaman meningkat, maka trips akan berkembang sangat cepat.
perkembangan telur sampai dewasa 13–15 hari dan stadium dewasa berkisar 15–20 hari. bila suhu di sekitar tanaman meningkat, maka trips akan berkembang sangat cepat.
3.2
Gejala
Serangan yang
ditimbulkan hama thrips adalah sebagai berikut :
1. Mula – mula daun muda yang terserang bernoda keperak – perakan secara
tidak beraturan, akibat adanya luka bekas serangan thrips.
2. Selanjutnya, noda – noda keperak – perakan berubah menjadi cokelat tembaga.
3. Serangan
berat dapat menyebabkan daun – daun mengeriting ke atas.
pengendalian
hama dan penyakit pada tanaman cabai yang dianjurkan adalah pengendalian
terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini
mencakup pengendalian kultur teknik, hayati(biologi), varietas yang tahan
(resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi. Pengendalian
hama dan penyakit secara teknik budi daya(agronomik) dapat dilakukan dengan
cara menjaga kebersihan kebun(sanitasi), penghancuran tanaman inang, pengerjaan
tanah yang sempurna, pengelolaan air yang baik, pergiliran tanaman, pemberoan
lahan, penanaman serentak, dan penetapan jarak tanam. Adapun hama dan penyakit
tanaman cabai sendiri jumplahnya banyak sekali.
BAB III
PENGELOLAAN HAMA
TERPADU (PHT)
3.3. SEJARAH Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
Tahun 1939 : DDT (dichloro-Diphenyl-Trichloroethane) adalah salah satu
yang di kenal petisida sintetis. Ini merupakan bahan kimia yang panjang, uik,
dan sejarah kontroversial diformulasika di swiss sebagai racun perut dan racun
kontak .
Tahun 1992 : Rachel carson menerbitka bukan ”silent Spring” (musim semi
yang sunyi) tentang bahaya pestisida. DDt dan pestisida dapat menyebabkan
kanker dan pertanian jika terus digunakan dapat menjadi ancaman bagi satwa
liar, terutama burung, silent spring menyebabkan masyarakat banyak tidak setuju
atas DDT yang kemudian di larang di AS (Amerika Serikat) pada 1972.
Tahun 1972 : EPA (Environmental protection authority) melarang
menggunakan DDT untuk pertanian seluruh dunia dibawah konvensi stokhulum.
1990 : PHT ( Pengendalian Hama Terpadu ) di perkenalkan sehngga
penggunaan pestisida berkurang. Sekarang riset banyak di gunakan terhadap
rekayasa genetika agen biokontrol.
Pembuatan tanaman transgenik tahan OPT dan pestisida yang paling banyak
di gunakan adalah herbisida, umumnya masyarakat di negara maju memounyai areal
yang sangat luas, maka dari itu umtuk mengifisienikan tenaga kerja lebih banyak
menggunkan herbisida untuk mengendalikan gulma.
Penggunaan pestisida terlalu banyak akan mengakibatkan resurjensi (Hama
Skunder menjadi Hama Penting). Akibat kerugian pestisida :
a)
Berdampak
pada kesehatan masyarakat
b)
Resistensi
OPT
c)
Kekurangan
hasil
d)
Kontaminasi
atau pencemaran lingkungan
e)
Terbunuhnya
organisme
Mengintegrasikan keseluruh tekhnik dan metode yang konvitabeldengan
menerapkan konsep agroekoteknologi
3.1.1. Konsep PHT Lama
Lebih di tunjukan untuk mengurangi frekuensidan jumlah pemakaian pestisida.
Karna pestisoda merupakan pilihan terakhir, maka pengendalian terpadu hanya
menerapkan sebagai pilihan terakhir pula, harus menghitung ambang ekonomi OPT
dan bukan pencegahan
3.1.2. Konsep PHT Baru
a)
Bersipat
Holistik dengan menerapkan agroekoteknologi
b)
Pestisida
telah digunakan diawal kegiatan budidaya
c)
Tidak terlalu
tergantung pada batasan ambang ekonomi
d)
Bersipat
preventif (pencegahan). Dengan tujuan mengutamakan kesehatan tanaman.
Agroekosistem merupakan tempat hidupnya berbagai jenis serangga, serangga-serangga
tersebut dapat merugikan bagi tanaman budidaya dan dapat berguna. Salah satu
dari serangga tersebut dapat berperan sebagai hama utama yang merupakan spesies
hama pada kurun waktu lama selalu menyerang pada suatu daerah dengan intensitas
serangga yang berat sehingga memerlukan usaha pengendalian yang seringkali
dalam daerah yang luas. Tanpa usaha pengendalian maka hama ini akan
mendatangkan kerugian ekonomik bagi petani. Biasanya pada agroekosistem hanya
ada satu atau dua hama utama. Sisanya adalah termasuk kategori hama yang lain.
Salah satu istilah yang digunakan untuk membatasi penggunaan pestisida
ada yang dikenal dengan BMR (Batas Maksimum Residu). Batas Maksimum Residu
(BMR) merupakan batas dugaan maksimum residu pestisida yang ada dalamberbagai
hasil pertanian yang diperoleh (Anonim, 2011).
Sistem PHT merupakan bagian yang erat kaitannya dengan usaha produksi
seperti penentuan varietas, penggunaan benih unggul, penentuan waktu tanam,
pemupukan berimbang, pengairan dan teknik budidaya lainnya. Penerapan PHT
merupakan metode pemberdayaan SDM petani agar dapat mewujudkan kemandirian
dalam pengambilan keputusan dilahan usaha taninya.
Penerapan
strategi pengendalian serangan OPT dilapangan masih menemui kendala diantaranya
adalah dalam pengorganisasian kelompok tani, koordinasi pengendalian antar
instansi terkait dan kemampuan sumberdaya manusia. Oleh karena itu perlu
dilakukan peningkatan kemampuan sumber daya manusia terutama petani dan petugas
ditingkat lapangan dan petani.
Memang dalam
pengendalian OPT secara konsep PHT tidak langsung menampakkan hasil yang nyata
tetapi memerlukan waktu yang relatif lama baru diketahui hasilnya. Tidak
seperti halnya pada pengendalian hama secara kimiawi yang langsung dapat
terlihat dampaknya terhadap jasad pengganggu.
Pengendalian
OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap
optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi
hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi. Pengendalian
dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu
memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga
tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran
yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian
yang tepat.
3.1.3. Pengendalian Hama dan Penyakit Strategi(taktik)
pengendalian
hama dan penyakit pada tanaman cabai yang dianjurkan adalah pengendalian
terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini
mencakup pengendalian kultur teknik, hayati(biologi), varietas yang tahan (resisten),
fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi. Pengendalian hama dan
penyakit secara teknik budi daya(agronomik) dapat dilakukan dengan cara menjaga
kebersihan kebun(sanitasi), penghancuran tanaman inang, pengerjaan tanah yang
sempurna, pengelolaan air yang baik, pergiliran tanaman, pemberoan lahan,
penanaman serentak, dan penetapan jarak tanam. Adapun hama dan penyakit tanaman
cabai sendiri jumplahnya banyak sekali. Berikut adalah berbagai jenis hama dan
penyakit tanaman cabai dan cara pengendaliannya:
A.
Hama Cabai Hama-hama penting yang umum menyerang tanaman cabai adalah sebagai
berikut:
1. Ulat
Grayak(Spodoptera Litura F.)
Ulat yang pada tubuhnya terdapat bintik-bintik segitiga
berwarna hitam dan bergaris kekuningan pada sisinya ini sering merusak tanaman
cabai di musim kemarau dengan cara memakan daun dan buahnya mulai dari bagian
tepi hingga menyebar ke bagian atas dan bawah. Serangan ulat grayak ini
menyebabkan daun dan buah cabai berlubang secara tidak beraturan sehingga
menghambat proses fotosintesis. Akibatnya produksi cabai akan menurun.
Pengendalian secara kimiawi , yakni sebagai
berikut:
Pemasangan Sex Pheromone, yaitu perangkap
ngengat (kupu-kupu)
jantan. Sex Pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan oleh serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan seksual(birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan melakukan sehingga membuahkan keturunan. Sex Pheromone ini berasal dari Taiwan yang di Indonesia di beri nama Ugratas (Ulat Grayak Berantas Tuntas) dan berwarna merah. Ugratas ini sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak. Cara pemasangan Ugratas ini adalah dimasukkan ke dalam botol bekas Aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-
kupu jantan. Satu hektar kebun cabai cukup dipasang 5 buah hingga 10
buah Ugratas merah dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas
tanaman cabai. Daya tahan (efektifitas) Ugratas ini kurang lebih tiga
minggu dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan.
Keuntunganpenggunaan Ugratas ini, antara lain, adalah aman bagi
manusia dan ternak, tidak berdampak negative terhadap lingkungan, dapat
menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama,
dan dapat memperlambat perkembangan hama tersebut.
jantan. Sex Pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan oleh serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan seksual(birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan melakukan sehingga membuahkan keturunan. Sex Pheromone ini berasal dari Taiwan yang di Indonesia di beri nama Ugratas (Ulat Grayak Berantas Tuntas) dan berwarna merah. Ugratas ini sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak. Cara pemasangan Ugratas ini adalah dimasukkan ke dalam botol bekas Aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-
kupu jantan. Satu hektar kebun cabai cukup dipasang 5 buah hingga 10
buah Ugratas merah dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas
tanaman cabai. Daya tahan (efektifitas) Ugratas ini kurang lebih tiga
minggu dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan.
Keuntunganpenggunaan Ugratas ini, antara lain, adalah aman bagi
manusia dan ternak, tidak berdampak negative terhadap lingkungan, dapat
menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama,
dan dapat memperlambat perkembangan hama tersebut.
Dalam hal ini
pengendalian hama thrips, dapat dilakukan dengan menempuh cara sebagai berikut
:
1. Secara
kultur teknis, dengan mempraktekkan penyiapan bedengan bermulsa plastik hitam
perak, mengatur pergiliran (rotasi) tanaman yang bukan sefamili, dan mengatur
waktu tanam yang baik (tepat).
2. Secara
biologi (hayati) dengan memanfaatkan musuh – musuh alami hama thrips, yaitu
kumbang Coccinellidae, tungau predator, kepik Anthocoridae, dan
kumbang Staphulinidae.
3. Pengendalian
memakai perangkap hama, yaitu dengan memasang Insect Adesive Trap Paper( IATP )
berupa lembar kertas berwarna kuning ukuran 21,5 cm x 15 cm asal Taiwan. Cara
pemasangannya adalah digulung dan digantung setinggi 15 cm – 30 cm dari pucuk
tanaman cabai. Dengan cara demikian, serangga hama Thrips yang berterbangan dan
mengenai IATP akan langsung terperangkap.
4. Monitoring
hama untuk menentukan Ambang Kendali. Sebagai indikator, pada saat ditemukan 10
nimfa/ daun atau kerusakan tanaman mencapai 15 %, perlu dilakukan penyemprotan
insektisida.
5. Pengendalian
secara kimiawi yaitu dengan penyemprotan insektisida Dicarzol 25 SP, Confidor
200 SL, Pegagus 500 SC, Decis 2,5 EC(0,04 %), Hostathion 40 EC(0,2 %), dan
Mesurol 50 WP(0,1 % - 0,2 %). Dosis atau konsentrasi penyemprotan disesuaikan
dengan label yang terdapat pada label kemasan obat tersebut (Jakapuring,2012).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
1. Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis sayuran
penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah
tropika seperti di Indonesia.
2. Thrips betina meletakkan telurnya secara tunggal di dalam jaringan
tanaman inang. Setelah kira-kira tiga hari, telur menetas (sering terjadi pada
pagi hari) dan muncul larva instar satu, satu hingga dua hari kemudian menjadi
larva instar dua. Stadia ini berakhir antara 2-4 hari dan pada akhirnya larva
ini tidak makan sama sekali.
3. Gejala
serangan yang ditimbulkan hama thrips adalah sebagai berikut : (a) Mula – mula
daun muda yang terserang bernoda keperak – perakan secara tidak beraturan,
akibat adanya luka bekas serangan thrips.
4. Pengendalian Hama Terpadu (PHT),
yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian,
sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi.pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian
yang tepat.
5. konsep PHT
tidak langsung menampakkan hasil yang nyata tetapi memerlukan waktu yang
relatif lama baru diketahui hasilnya. Tidak seperti halnya pada pengendalian
hama secara kimiawi yang langsung dapat terlihat dampaknya terhadap jasad
pengganggu.
Saran :
Sebaiknya
dalam penerapan strategi pengendalian serangan OPT dilapangan perlu dilakukan peningkatan kemampuan sumber daya manusia
terutama petani dan petugas ditingkat lapangan dan petani.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2010. Tanaman Cabai. http://cms. 1 m-bio.com/tanaman-cabai/
______,
2011. Pengendalian Hama Terpadu. http://ulatgatel –
sodiest.blogspot.com/2011/09/. html
______, 2012. Penyuluhan
persemaian dan persiapan lahan untuk tanaman cabai. http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/persemaian-dan-persiapan-lahan-untuk-tanaman-cabai
Sugianto,Y. 2010.
perlakuan pht hama thrips pavispinnus.html. http://yusufsugianto.blogspot.com/2010/11/perlakuan-pht-hama-thrips-pavispinnus.html
Tiada ulasan:
Catat Ulasan